Subscribe

RSS Feed (xml)



Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Rabu, 27 Mei 2009

Membuktikan Cinta

Sudah dua bulan ini, Si Adek mendapat pengasuh yang baru, seorang gadis berumur 19 tahun tamat dari Madrasah Aliyah. Gadis yang baik, lembut dan Si Adek cepat sekali bisa dekat dengannya. Saya seperti mendapatkan seorang anak lagi, selain Ega dan Adek.

Disaat senggang, ada waktu kami saling bertukar cerita, sambil menemani Si Adek bermain. Layaknya seorang gadis seumur dia, yang menarik untuk dibicarakan adalah seputar cowok. Terkadang ceritanya menjadi sangat lucu dan kadang terdengar begitu naif. Semua menjadi begitu indah dan seakan karena rasa cintanya itu, tidak ada hal yang sulit baginya untuk dihadapi.

Lain hal dengan anak saya yang satu lagi, bercerita tentang pacarnya yang cantik, dan karena cintanya dia rela merubah kebiasaan, biasanya pakai baju sesukanya, jeans belel dan robek dilutut yang menjadi seragam wajibnya, kini ditinggalkan dan mulai tampil rapi, semua untuk membuat pacar senang. Membicarakan sang pacar, seakan tidak pernah kehabisan kisah. Kehidupannya seakan terpusat padanya, pacar tidak balas sms atau tidak menerima telponnya bisa membuatnya bete seharian.

Mungkin kita semua sudah mengalami bagaimana rasanya cinta, semua menjadi indah, semua menjadi hidup. Orang yang kita cintai, seakan mampu memberikan semangat yang tidak pernah habis.

Disaat hati dirundung duka maka orang yang kita cintai akan menjadi tempat pertama sebagai tempat berbagi, mencurahkan seluruh kegalauan hati kita. Dan kemudian, walaupun hanya satu kata yang diberikannya maka itu akan menjadi sebuah kalimat bijaksana yang panjang, yang mampu menenang hati dan mengembalikan semua energi, mengembalikan harapan dan menunjukkan jalan keluar bagi masalah kita.

Hanya mengingat dan menyebutkan nama orang yang kita cintai mampu membuat kita tersenyum bahagia dan membuat satu hari yang paling buruk sekalipun berubah menjadi hari yang menyenangkan.

Apa saja akan kita lakukan untuk orang yang kita cintai, karena cinta seorang bapak yang sedang sakit mampu berangkat bekerja agar bisa memberikan nafkah untuk keluarganya.

Karena cinta, seorang ibu akan rela bangun ditengah malam untuk menyusui bayinya, menggendongnya dalam pelukan hingga pagi, walaupun harus menahan kantuk.

Bagaimana dengan cinta kita kepada Sang Khalik? Seberapa besarkah rasa cinta kita? Sekeras apa upaya kita untuk membuktikan rasa cinta kita? Sekuat apa kita merusaha untuk membuat Allah senang?

Ketika panggilan Allah datang, kita selalu mengulur waktu, kita lebih mengutamakan pekerjaan, masih sibuk meneruskan kegiatan yang kita sukai, dilapangan futsal,di mall, memandang monitor komputer, tidak rela menghentikan game yang sedang kita mainkan. Padahal hanya meluangkan waktu tidak lebih dari 10 menit untuk- Nya.

Ketika kita dilanda masalah dan kesedihan bermain dihati, kita lebih senang mencari kedamaian pada yang lain, yang hanya mampu memberikan damai yang semu, menempatkan-Nya pada nomor kesekian, curhat pada manusia, kita lebih percaya kepada orang lain untuk mengadu.

Kita lebih percaya dan tanpa malu dan ragu, memohon dan menghiba kepada boss dan pimpinan kita, mengira merekalah yang mampu merubah jalan hidup dan menentukan seluruh rezeki yang akan kita terima. Kita sering kali melupakan bahwa gerak langkah, kesehatan, kebahagiaan, kesedihan dan rezeki, semua diberikan dan diatur oleh-Nya.

Kita kadang ragu untuk menangis kepada-Nya, ragu untuk mencurahkan kegalauan hati kita kepada-Nya.

Jika kita memang mencintai-Nya, mengapa tidak kita sebut nama-Nya? Mengapa tidak kita renung keagungan-Nya, yang akan membuat kita merasa damai dan tentram, walau seberat apapun masalah yang dihadapi.

Betapa sulitnya kita untuk membuktikan cinta kepada-Nya, padahal begitu banyak kasih sayang dan kebahagiaan yang telah kita terima.

Semoga bisa menjadi renungan bersama dan saat ini mulai membuktikan cinta kita kepada - Nya.



Read More..

Selasa, 12 Mei 2009

Sampaikan Walau Satu Ayat

Pukul 14.00 wita, jam istirahat kantor baru saja usai. Sebuah pesan masuk ke ponsel saya. Ternyata dari Mas Noto Si Manusia Biasa yang menanyakan ada dimana saya saat itu.

Tiga minggu tidak masuk kerja memang membuat saya rindu dengan tugas, termasuk juga rindu teman-teman kantor. Pesan pendeknya saya jawab, saya ada diruang kerja.

Tidak sampai sepuluh menit Si Manusia Biasa sudah mengetuk pintu. Masuk sebentar dan berdiri didepan saya, kemudian berkata "....sebentar Kak, mau kedapur dulu...bikin kopi"

Tidak biasanya melayani diri sendiri, biasanya sebelum datang sudah pesan kopi duluan, lengkap dengan mi instan hangat.

Tidak lama dia masuk lagi dan duduk di kursi didepan meja. Membakar rokok dan memakai piring alas gelas saya sebagai asbaknya. Duuh..sahabat saya yang satu ini memang punya hak istimewa, karena tidak bakal kena marah saya, ujung-ujungnya jendela disebelah meja harus saya buka agar asap rokoknya keluar dari ruangan.

Sejenak kami bicara tentang pekerjaan, kemudian beralih ke blog. "Saya lagi malas posting Mas" kata saya, dijawabnya "... sama". Tapi beberapa hari yang lalu saya sempat meninggalkan komentar di websitenya, sebuah posting menarik menurut saya, seputar doa dan rezeki dengan judul "Anda Pernah Meminta?"

Selanjutnya pembicaraan kami jadi membahas materi posting, diskusi offline ternyata juga menarik. Sambil menemaninya menghabiskan secangkir kopi dan sebatang rokoknya, saya pikir sebuah halaqah tidak mesti dibuat dengan pembicaraan religius secara mendalam. Ringan tetapi menyentuh dasar batin. Bukankah ini juga menjadi sebuah zikir? Kemudian menyimpulkannya menjadi sebuah kesepakatan bahwa hasil dari sebuah usaha dan doa, tidak terlepas dari ijin-Nya.

"Saya kurang sependapat dengan kata-kata Kak Lina dulu, tentang posting berthema religi, kenapa mesti takut? katanya.

Saya memang pernah mengatakan hal tersebut, karena merasa tidak mampu, apalagi ilmu saya tentang agama sangat terbatas, biarkan orang-orang yang mampu dan mengerti yang melakukanya. Tetapi bukan berarti, itu berlaku untuk orang lain, bukankah sebuah tulisan adalah hasil dari sebuah pemikiran, walau sesederhana apapun. Apalagi jika buah pikiran tersebut sangat bermanfaat bagi orang lain. Sebuah ilmu pengetahuan dan pelajaran tentang hikmah kehidupan bisa jadi didapatkan dari manapun.

" Sampaikan walau satu ayat" lanjutnya. Saya jawab dengan senyum setuju. Dan membahas sebuah konsep spiritual tidak semata-mata dari pembahasan rangkaian ayat. Tetapi bisa dalam bentuk apapun. Didalam sebuah blog maka tata bahasa adalah sebuah wahana dan kata-kata adalah media, lebih dari semua itu hikmah dan intisarinyalah yang menjadi tujuan akhirnya.

Memberi manfaat bagi orang lain, itulah yang terpenting, meskipun sekecil apapun. Jika belajar dari kepergian seorang sahabat kita Sassie Kirana, alangkah indahnya jika suatu ketika ajal menjelang, maka apa yang kita tulis pada blog, akan menjadi catatan yang akan selalu bermanfaat bagi siapapun, meskipun saat itu kita tidak pernah bisa menulis lagi. Semoga.
Read More..