Sudah dua bulan ini, Si Adek mendapat pengasuh yang baru, seorang gadis berumur 19 tahun tamat dari Madrasah Aliyah. Gadis yang baik, lembut dan Si Adek cepat sekali bisa dekat dengannya. Saya seperti mendapatkan seorang anak lagi, selain Ega dan Adek.Disaat senggang, ada waktu kami saling bertukar cerita, sambil menemani Si Adek bermain. Layaknya seorang gadis seumur dia, yang menarik untuk dibicarakan adalah seputar cowok. Terkadang ceritanya menjadi sangat lucu dan kadang terdengar begitu naif. Semua menjadi begitu indah dan seakan karena rasa cintanya itu, tidak ada hal yang sulit baginya untuk dihadapi.
Lain hal dengan anak saya yang satu lagi, bercerita tentang pacarnya yang cantik, dan karena cintanya dia rela merubah kebiasaan, biasanya pakai baju sesukanya, jeans belel dan robek dilutut yang menjadi seragam wajibnya, kini ditinggalkan dan mulai tampil rapi, semua untuk membuat pacar senang. Membicarakan sang pacar, seakan tidak pernah kehabisan kisah. Kehidupannya seakan terpusat padanya, pacar tidak balas sms atau tidak menerima telponnya bisa membuatnya bete seharian.
Mungkin kita semua sudah mengalami bagaimana rasanya cinta, semua menjadi indah, semua menjadi hidup. Orang yang kita cintai, seakan mampu memberikan semangat yang tidak pernah habis.
Disaat hati dirundung duka maka orang yang kita cintai akan menjadi tempat pertama sebagai tempat berbagi, mencurahkan seluruh kegalauan hati kita. Dan kemudian, walaupun hanya satu kata yang diberikannya maka itu akan menjadi sebuah kalimat bijaksana yang panjang, yang mampu menenang hati dan mengembalikan semua energi, mengembalikan harapan dan menunjukkan jalan keluar bagi masalah kita.
Hanya mengingat dan menyebutkan nama orang yang kita cintai mampu membuat kita tersenyum bahagia dan membuat satu hari yang paling buruk sekalipun berubah menjadi hari yang menyenangkan.
Apa saja akan kita lakukan untuk orang yang kita cintai, karena cinta seorang bapak yang sedang sakit mampu berangkat bekerja agar bisa memberikan nafkah untuk keluarganya.
Karena cinta, seorang ibu akan rela bangun ditengah malam untuk menyusui bayinya, menggendongnya dalam pelukan hingga pagi, walaupun harus menahan kantuk.
Bagaimana dengan cinta kita kepada Sang Khalik? Seberapa besarkah rasa cinta kita? Sekeras apa upaya kita untuk membuktikan rasa cinta kita? Sekuat apa kita merusaha untuk membuat Allah senang?
Ketika panggilan Allah datang, kita selalu mengulur waktu, kita lebih mengutamakan pekerjaan, masih sibuk meneruskan kegiatan yang kita sukai, dilapangan futsal,di mall, memandang monitor komputer, tidak rela menghentikan game yang sedang kita mainkan. Padahal hanya meluangkan waktu tidak lebih dari 10 menit untuk- Nya.
Ketika kita dilanda masalah dan kesedihan bermain dihati, kita lebih senang mencari kedamaian pada yang lain, yang hanya mampu memberikan damai yang semu, menempatkan-Nya pada nomor kesekian, curhat pada manusia, kita lebih percaya kepada orang lain untuk mengadu.
Kita lebih percaya dan tanpa malu dan ragu, memohon dan menghiba kepada boss dan pimpinan kita, mengira merekalah yang mampu merubah jalan hidup dan menentukan seluruh rezeki yang akan kita terima. Kita sering kali melupakan bahwa gerak langkah, kesehatan, kebahagiaan, kesedihan dan rezeki, semua diberikan dan diatur oleh-Nya.
Kita kadang ragu untuk menangis kepada-Nya, ragu untuk mencurahkan kegalauan hati kita kepada-Nya.
Jika kita memang mencintai-Nya, mengapa tidak kita sebut nama-Nya? Mengapa tidak kita renung keagungan-Nya, yang akan membuat kita merasa damai dan tentram, walau seberat apapun masalah yang dihadapi.
Betapa sulitnya kita untuk membuktikan cinta kepada-Nya, padahal begitu banyak kasih sayang dan kebahagiaan yang telah kita terima.
Semoga bisa menjadi renungan bersama dan saat ini mulai membuktikan cinta kita kepada - Nya.
Read More..


