Berikut ini potongan percakapan saya dengan seorang Ibu Dokter disebuah klinik kesehatan kemarin siang.
Ibu Dokter : Pernah punya riwayat darah tinggi ga’?
Saya : Ngga’ pernah
Ibu Dokter : Makan gimana? Teratur ga’
Saya : (tidak dijawab, senyum-senyum aja)
Ibu Dokter : Pasti makannya ngga’ teratur yaa?
Saya : Kadang lupa waktu makan, sampai terlewat trus laparnya hilang,jadi ngga’ makan.
Ibu Dokter : Tidurnya gimana? Cukup ngga’?
Saya : (tidak menjawab, lagi-lagi cuma senyum, karena memang kebanyakan begadangnya daripada tidurnya)
Ibu Dokter : Kerjanya pakai komputer? Berapa jam sehari? Posisi duduknya gimana? Ruangannya ber AC?
Saya : Iya pakai komputer...bla..bla..bla...jawabnya sambil menghitung dan berpikir bagaimana cara saya bekerja selama ini, sepertinya semua saya atur senyaman mungkin.
Lagipula saya pernah membaca sebuah artikel tentang posisi duduk yang benar saat bekerja dengan komputer dan dampak yang terjadi jika salah posisi.
Ibu Dokter : Terlalu banyak kebiasaan buruk dan ini adalah akumulasi dari kebiasaan buruk selama bertahun-tahun itu.
Saya terdiam (lebih tepatnya plus wajah dengan mode dodol) akhirnya tertawa sendiri sambil menatap wajah Ibu Dokter yang manis itu. Saya pikir ada benarnya, kebiasaan buruk selama bertahun-tahun.
Selama ini pontang-panting dengan urusan kerjaan di kantor dan keluarga memang jadi nomor satu, sakit sedikit tidak pernah jadi keluhan berarti, tapi seminggu belakangan ini kondisi tubuh saya sudah tidak bisa kompromi lagi. Awalnya setelah pulang dari tracking untuk penambahan jaringan pipa baru, malamnya badan meriang. Dua hari kemudian nyeri di punggung bagian kanan, lumayan parah, duduk salah, berbaring pun salah. Nyeri yang tidak tertahankan itulah akhirnya memaksa harus berkenalan dengan Ibu Dokter tadi.
“Ibu akan saya kasih obat, agar sakitnya hilang, tapi harus lakukan uji kimia darah yaa, biar ketahuan penyebab lainnya”
Nah lo, apalagi nih, padahal tadi cuma karena kebiasaan buruk dan kemungkinan karena otot yang kaku karena kebanyakan kerja. Tapi tentu saja saya tidak berani protes.
Dalam hati mulai berpikir, bagaimana caranya memulai menghilangkan daftar kebiasaan buruk tadi, minimal mengurangi dan mulai kebiasaan sehat termasuk hal-hal lainnya yang berhubungan dengan pekerjaan.
Yang pertama saya lakukan adalah searching di Google, mencari info tentang posisi duduk saat bekerja dengan komputer (kalo ada yang ketemu tentang posisi yang benar jika bekerja dengan laptop, tolong infonya, khan berbeda tuh...) minimal buat refresh lagi, kalau saja ada yang salah dengan cara saya.
Dan tentu saja tidak hanya buat saya, sekalian mengingatkan teman-teman yang juga bekerja dengan komputer terus menerus, tentu ini wajib menjadi catatan penting, apalagi yang sudah masuk kategori “terserang penyakit bengong kalau ketemu internet” atau yang memang kerjanya dibidang itu, seperti sahabat, sahabat saya ini.
Tapi terlepas dari semua diagnosa Ibu Dokter, ada satu yang menyentuh hati saya, sebuah kalimat yang diucapkan seorang sahabat saya, kemaren sore saat jam kerja berakhir, ”Istirahat Bu, sebelum penyakit yang mengingatkan kita untuk beristirahat”
Ibu Dokter : Pernah punya riwayat darah tinggi ga’?
Saya : Ngga’ pernah
Ibu Dokter : Makan gimana? Teratur ga’
Saya : (tidak dijawab, senyum-senyum aja)
Ibu Dokter : Pasti makannya ngga’ teratur yaa?
Saya : Kadang lupa waktu makan, sampai terlewat trus laparnya hilang,jadi ngga’ makan.
Ibu Dokter : Tidurnya gimana? Cukup ngga’?
Saya : (tidak menjawab, lagi-lagi cuma senyum, karena memang kebanyakan begadangnya daripada tidurnya)
Ibu Dokter : Kerjanya pakai komputer? Berapa jam sehari? Posisi duduknya gimana? Ruangannya ber AC?
Saya : Iya pakai komputer...bla..bla..bla...jawabnya sambil menghitung dan berpikir bagaimana cara saya bekerja selama ini, sepertinya semua saya atur senyaman mungkin.
Lagipula saya pernah membaca sebuah artikel tentang posisi duduk yang benar saat bekerja dengan komputer dan dampak yang terjadi jika salah posisi.
Ibu Dokter : Terlalu banyak kebiasaan buruk dan ini adalah akumulasi dari kebiasaan buruk selama bertahun-tahun itu.
Saya terdiam (lebih tepatnya plus wajah dengan mode dodol) akhirnya tertawa sendiri sambil menatap wajah Ibu Dokter yang manis itu. Saya pikir ada benarnya, kebiasaan buruk selama bertahun-tahun.
Selama ini pontang-panting dengan urusan kerjaan di kantor dan keluarga memang jadi nomor satu, sakit sedikit tidak pernah jadi keluhan berarti, tapi seminggu belakangan ini kondisi tubuh saya sudah tidak bisa kompromi lagi. Awalnya setelah pulang dari tracking untuk penambahan jaringan pipa baru, malamnya badan meriang. Dua hari kemudian nyeri di punggung bagian kanan, lumayan parah, duduk salah, berbaring pun salah. Nyeri yang tidak tertahankan itulah akhirnya memaksa harus berkenalan dengan Ibu Dokter tadi.
“Ibu akan saya kasih obat, agar sakitnya hilang, tapi harus lakukan uji kimia darah yaa, biar ketahuan penyebab lainnya”
Nah lo, apalagi nih, padahal tadi cuma karena kebiasaan buruk dan kemungkinan karena otot yang kaku karena kebanyakan kerja. Tapi tentu saja saya tidak berani protes.
Dalam hati mulai berpikir, bagaimana caranya memulai menghilangkan daftar kebiasaan buruk tadi, minimal mengurangi dan mulai kebiasaan sehat termasuk hal-hal lainnya yang berhubungan dengan pekerjaan.
Yang pertama saya lakukan adalah searching di Google, mencari info tentang posisi duduk saat bekerja dengan komputer (kalo ada yang ketemu tentang posisi yang benar jika bekerja dengan laptop, tolong infonya, khan berbeda tuh...) minimal buat refresh lagi, kalau saja ada yang salah dengan cara saya.
Dan tentu saja tidak hanya buat saya, sekalian mengingatkan teman-teman yang juga bekerja dengan komputer terus menerus, tentu ini wajib menjadi catatan penting, apalagi yang sudah masuk kategori “terserang penyakit bengong kalau ketemu internet” atau yang memang kerjanya dibidang itu, seperti sahabat, sahabat saya ini.
Tapi terlepas dari semua diagnosa Ibu Dokter, ada satu yang menyentuh hati saya, sebuah kalimat yang diucapkan seorang sahabat saya, kemaren sore saat jam kerja berakhir, ”Istirahat Bu, sebelum penyakit yang mengingatkan kita untuk beristirahat”
Read More..









