Subscribe

RSS Feed (xml)



Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Sabtu, 27 Desember 2008

Dialog mereka dan aku

Seseorang berkata : Mengapa kau pergi diam-diam, tidak pernah mengatakannya kepadaku, akhirnya mereka menuduhku pengkhianat.

Aku menjawab : Seseorang harus punya sebuah keyakinan, jika telah yakin maka perjuangkanlah, setelah memperjuangkannya maka siaplah dengan segala resiko. Dan aku telah siap, bahkan untuk resiko terburuk sekalipun

Seseorang berkata : Harus bagaimana aku? Aku bingung untuk bersikap.

Aku menjawab : Jika kau tak mengerti, maka diamlah. Karena untuk saat ini, diam akan membawamu pada jalan yang paling aman.

Seseorang berkata : Kenapa dia harus menerima keputusan yang buruk, padahal dia berhak mendapatkan yang lebih baik.

Aku menjawab : Tidak harus dipertanyakan, yang buruk menurut nalar manusia belum tentu buruk dimata Yang Kuasa. Saat ini itulah yang terbaik untuknya.

Seseorang berkata : Terlalu banyak yang kau pikirkan, istirahatlah, duduk sebentar, akan aku buatkan secangkir kopi untukmu.

Aku menjawab : Terima kasih sudah menjadi sahabatku.

Seseorang berkata : Memerdekakan pikiran tak semudah memerdekakan badan

Aku menjawab : Pikiranku merdeka. Tidak pernah ada pengekangan atas pikiranku. Tetapi kemerdekaan seorang wanita tidak pernah semena-mena

Seseorang berkata : Tunggu apa lagi, kamu punya potensi dan kesempatan ini mungkin tidak akan pernah ada lagi, bukankan ini obsesimu, cita-citamu?

Aku menjawab : Aku pedih, aku sadar tidak semua kesempatan dapat aku genggam, saat ini aku ada pada titik kompromi dan itu ikhlas aku jalani.

Seseorang berkata : Jika semua masih terhubung dengannya maka artinya tidak bisa

Aku menjawab : Ini tidak rasional, tidak masuk akal. Aku tidak tahu sampai kapan aku akan bertahan.

Seseorang berkata : Alangkah jauh dirimu?

Aku menjawab : Aku disini, tak pernah pergi

Seseorang berkata : Semua tentang kerja, hal lain tak sempat lagi untuk berkata.

Aku menjawab : Sabarlah, memang sudah waktunya.

Seseorang berkata : Aku pergi dulu, besok aku akan pulang.

Aku menjawab : Semua pasti akan berbeda, aku akan merindukanmu
Read More..

Jumat, 26 Desember 2008

Mengukur Kepribadian

Awalnya bermaksud buka email, dilanjutkan blogwalking, baca sana sini, sampai akhirnya ketemu tentang test personality, iseng-iseng saya mencobanya, dan hasilnya walaupun tidak jauh dari kenyataan tapi tetap saja hasilnya mengejutkan. Mau tahu hasilnya?

Engaged Idealist (EI)

Engaged Idealists are extroverted and helpful. Others find them to be very congenial and inspiring - especially as they are always willing to see the best in the other person. Their humour, their energy and their optimism attract other people. Engaged Idealists are very good at communicating and are good at convincing and firing on others. That is why it is a matter of course that they often take over the leading role in groups. This personality type often produces very charismatic persons.

Engaged Idealists have an unusually strong ability to empathise. They are tolerant and generous towards others; they sometimes tend to idealise their friends. They always try to suit everybody and want their relationships to be harmonious and satisfactory. To achieve this, they are prepared to invest a great deal and to put their requirements last. As Engaged Idealists are very considerate, there is the danger of them sacrificing and overexerting themselves for others. In their job, they therefore have to be very careful not to develop a burnout syndrome.

Engaged Idealists are reliable, well organised and love structuring complicated situations. They have difficulty accepting criticism; they quickly feel hurt and misunderstood. Their perfectionism also influences their love life - they look for the perfect relationship for life. Once they have made their decision, they are faithful, well-balanced and loving partners. However, should they get involved with the wrong person, it can happen that they allow themselves to be exploited for a long time before they end the relationship.

Adjectives which describe your type
extroverted, theoretical, emotional, planning, idealistic, committed, likable, enthusiastic, responsible, helpful, loyal, diplomatic, friendly, inspiring, caring, solicitous, optimistic, effusive, adaptable, communicative, articulate, convincing, energetic, optimistic, open, vulnerable


Anda ingin mencobanya dan mengetahui bagaimana kepribadian anda sebenarnya, bisa mencoba di sini: http://www.ipersonic.com


Read More..

Kamis, 18 Desember 2008

Memilih Pasangan Jiwa

Suatu hari, disaat saya melewatkan me time, seorang sahabat saya berkata, “ Bunda, saya lagi bingung....”, dan saya langsung bertanya,”bingung kenapa?”. Dia menjawab lagi, “ Bingung pilih dia atau dia.”

Ternyata bingung memilih diantara dua orang yang disukainya. Walaupun dijelaskan dengan singkat, tetapi saya mengerti, kedua pilihan masing masing mempunyai konsekuensi. Katanya sih begini, kalau dia pilih yang pertama maka dia munafik dan jika dia pilih yang kedua maka artinya perjuangan panjang.


Saat itu saya jadi ingat sebuah film seri di chanel AXN, judulnya Early Edition, ceritanya tentang seorang pemuda yang setiap pagi saat bangun tidur, selalu didatangi oleh seekor kucing yang membawa sebuah surat khabar, semua yang akan terjadi pada hari itu akan tertulis di surat khabar tersebut dan jadilah dia seseorang yang bisa memprediksikan sebuah kejadian yang belum ada.

Tapi disini tidak ada Sang Kucing dengan surat khabarnya dan juga tidak ada seseorang yang bisa memprediksikan sesuatu yang belum terjadi. Dan curahan hati sahabat saya selama seminggu ini terus terngiang di kepala saya, berdesakan diantara banyak hal yang juga turut membuat sesak isi kepala.

Walaupun menurutnya masih tahap mencari teman spesial, tetapi melihat usianya saat ini, sudah waktunya untuk lebih serius, mencari seseorang yang kelak akan menjadi istri.

Sahabat, manusia mana yang tidak menginginkan mendapat pasangan jiwa, suami atau istri terbaik yang sesuai harapan. Saya sadari saya bukan ahli dalam hukum agama, tetapi ijinkanlah saya untuk menyampaikannya sedikit dari sisi agama. Ada sabda Rasulullah SAW, yang menyebutkan, "Seorang wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang mempunyai agama, niscaya kamu beruntung." [HR. Bukhari dan Muslim].

Sahabatku, tidak salah apabila memilih diantara “dia dan dia” dengan melihat dari sisi hartanya, latar belakang keluarganya dan juga bagaimana kecantikan fisiknya. Tetapi utamakanlah memilih karena agamanya. Hal ini dikuatkan lagi dengan, "Dapatkan wanita yang beragama, (jika tidak) niscaya engkau merugi." [HR. Bukhari dan Muslim].

Sahabatku, hal ini tentu saja tidak mudah, ukuran sebuah kekayaan, latar belakang keturunan dan kecantikan, demikian pula ukuran keshalehan (agama), jika dijabarkan menjadi sangat luas dan dalam. Ukuran kekayaan tidak mutlak berarti kaya raya, ukuran keturunan tidak hanya karena dia berasal dari keluarga ningrat, terpandang dan terhormat. Kecantikan fisik bukan berarti harus menyerupai Luna Maya, demikian pula tentang agama, apakah hanya dilihat agama berdasrkan pada pemahaman secara umum.

Sahabatku, sayang sekali tidak banyak yang berani saya sampaikan, akan lebih lengkap jika sahabat berkunjung ke sini, untuk lebih lengkapnya. Dan jika berkenan ada banyak buku yang memberikan tuntunan tentang situasi yg sedang dijalani, yang agak ringan misalnya “Berburu Cinta Atas Nama Allah SWT” karangan Muhammad bin Ismail Al-'Umrani atau “Pacaran Islami? Siapa takut” karangan Aisha Chuang.

Sahabatku, ketika harus memilih dan kita berada dalam kebingungan menentukan mana yang terbaik, maka lakukanlah Shalat Istikharah, agar mendapat jawaban atas pilihan yang terbaik atas petunjuk Allah SAW. Insya Allah keraguan yang ada dihati sahabat akan berganti dengan ketenangan serta mendapatkan keyakinan. Dan yakinlah, resiko masalah atas pilihan akan bisa diperkecil.

Berusahalah Sahabatku, jalan masih panjang untukmu, semoga berhasil.

Read More..

Minggu, 14 Desember 2008

Rindu Mekkah

Pukul 19.30 wita, hari Minggu masih juga harus ke kantor dan pulang terlambat pula. Malam telah sempurna mengiringi perjalanan kembali kerumah. Duduk terdiam di jok belakang, mata saya menatap ke balik kaca jendela, beberapa kali melintasi pintu gerbang-pintu gerbang yang telah banyak terpasang didepan rumah penduduk Tenggarong, berhias lampu warna warni dan bertuliskan “Selamat datang dari tanah suci Mekkah”. Sudah menjadi tradisi, bila tiba waktunya kepulangan jamaah haji maka keluarga yang berada di rumah akan memasang pintu gerbang didepan rumahnya untuk menyambut kedatangan anggota keluarga yang telah selesai menjalankan ibadah haji. Sebuah tanda kebahagian dan kegembiraan dan ucapan syukur kepada Allah SWT.

Tiba-tiba saja hati menjadi melankolis, terhanyut dalam kerinduan yang tidak pernah habis-habisnya. Apalagi belakangan ini, saya dan Ayah lebih sering menyaksikan channel televisi Saudi Arabia, menyaksikan proses ibadah haji yang dilakukan jamaah haji dari seluruh dunia, terutama saat Wukuf di Arafah dan melempar jumrah di Mina. Rindu itu malam ini kembali menyeruak di hati dan seperti biasa selalu menyisakan air bening diujung mata saya.

Masih terasa laksana baru kemarin memandang Ka’bah, tidak pernah bisa hilang bayangannya dari pelupuk mata, meskipun sudah dua tahun berlalu.

Delapan hari berada di Madinah untuk melaksanakan shalat fardhu Arbain, yaitu menjalankan sholat wajib lima waktu sebanyak 40 kali di Masjid Nabawi. Suasana Madinah saat itu dingin menusuk tulang, suhu berkisar antara 8 derajat sampai 16 derajat celcius, dua kali saya diserang hypothermia karena tidak tahan dengan suhu dingin, tetapi Alhamdulillah bersama Ayah, 40 waktu bisa kami jalankan dengan baik. Diantara banyak hikmah yang saya ambil selama di Madinah ada sebuah pelajaran batin yang saya dapatkan, yaitu belajar ilmu tentang Ikhlas. Setiap jamaah haji dan umrah yang berada di Madinah selalu menginginkan untuk bisa Shalat dan berdoa di Raudah, yang berada diantara Makam Rasulullah dengan sebuah Mimbar yang dipakai oleh Rasulullah ketika berkhutbah. Saat itu meskipun sudah satu kali ziarah ke Raudah tapi saya masih berkeinginan untuk ke sana, di hari ketiga, ba’da Subuh sengaja saya tidak keluar untuk sarapan, dengan waklie talkie saya meminta ijin kepada Ayah untuk ke Raudah. Alhamdulillah semua berjalan lancar, meskipun harus berdesak-desakan diantara ribuan jamaah wanita lainnya. Shalat dua rakaat dan berdoa singkat bisa saya lakukan. Pulang ke hotel tempat kami menginap, seorang teman yang berangkat tanpa suami, meminta kepada saya untuk mengantarnya ke Raudah, hati saya terasa berat, karena membayangkan harus menjaga orang lain di antara ribuan jamaah yang berdesakkan menuju Raudah, cukup melelahkan. Saat itu, jujur saya akui sedikit terpaksa menyangupinya dan sepakat untuk membawanya ke Raudah, ba’da Subuh keesokan harinya.

Ketika kami akan berangkat, didalam hati saya berdoa, agar diberikan kemudahan untuk menuju Raudah. Sedikit ragu yang menyelinap dihati saya, mampukan saya menjaga sahabat saya selama di sana, kemudian berangsur hilang berganti dengan kepasrahan kepada pertolongan Allah SWT. Setelah menunggu giliran, karena di depan Raudah jamaah dibagi menjadi beberapa kelompok Asia, Eropa dan Arabia. Tiba saat rombongan jamaah negara-negara Asia, sungguh pertolongan Allah SWT langsung kami terima, seakan jalan terbuka untuk kami, tidak terasa desakan dan gelombang manusia yang biasanya terjadi di depan Raudah, langkah terasa mudah, dan entah kenapa, waktu terasa panjang, shalat yang kami lakukan menjadi lebih khusuk dan semua doa dan permintaan yang ada didalam hati saya habis diungkapkan, sehingga sampai terasa tidak ada lagi doa yang tidak sempat terucapkan, bahkan sempat disaat itu kami membantu seorang Ibu berkebangsaan Malaysia dan seorang putrinya dengan menjaga mereka saat sholat. Sungguh sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi saya tentang keikhlasan. Askar-askar wanita yang biasanya tegas dan tidak meperbolehkan berlama-lama berdoa di Raudah seperti tidak perduli kepada kami.





Saat melakukan umrah pertama, Tawaf kami lakukan dibawah curahan hujan lebat hingga Sa'i selesai dan Tahlul dilakukan. Air yang tertumpah dari langit Mekkah yang kelabu saat itu bercampur dengan air mata keharuan yang selalu tidak bisa saya bendung.

Minggu pertama di kota Mekkah diisi dengan ibadah shalat di Masjidil Haram, kota Mekkah masih sepi, karena kami termasuk rombongan pertama yang datang ke sana dan dari tanah air merupakan kloter pertama. Suhu Mekkah terasa lebih hangat di banding Madinah walaupun masih tetap lebih dingin dibanding suhu normal di Indonesia. Seminggu menjelang keberangkatan ke Arafah untuk melaksanakan Wukuf, suhu Mekkah berubah, biasanya hanya 22 derajat sampai 23 derajat tiba-tiba naik menjadi 33 derajat, sajadah yang biasanya setelah sholat selalu berada dibahu saya agar tidak kedinginan jadi berpindah ke atas kepala untuk menahan panas yang menyengat.

Banyak kejadian yang dialami selain ibadah wajib dan sunat yang dilakukan. Kejadian yang mengandung makna yang terkadang hanya saya pribadi yang bisa memaknainya. Ketika ditanah air saya pernah diberi pesan agar berhati-hati dengan orang bangsa lain meskipun wanita. Tetapi teryata itu tidak terbukti, banyak kejadian yang justru membuat saya merasa aman dan terlindungi, seperti seorang ibu dari Turki yang tanpa diminta memijat kedua kaki saya yang terasa penat karena duduk bersila saat mengaji sambil menunggu waktu Ashar datang. Atau seorang bapak tua yang kalau dilihat dari pakaiannya adalah dari negara Pakistan, memberi saya dua buah gelas berisi air untuk saya berwudhu karena terpaksa harus mengambil wudhu kembali saat kami berada di lantai paling atas Masjidil Haram. Saat itu saya hanya mampu mengambil dua gelas air dari keran air minum, untuk saya berwudhu. Banyak lagi kejadian yang menyadarkan saya bahwa kejadian-kejadian itu adalah cerminan baik dari sikap diri yang penuh kasih sayang kepada siapa saja, menghargai dan tidak pernah dipenuhi curiga apalagi buruk sangka.



Ada lagi sebuah pelajaran hebat yang saya dapatkan, kejadian yang menyadarkan saya bahwa sepanjang hidup saya telah memahami sesuatu yang kurang tepat, sesuatu yang telah mendarah daging dan menjadi arah untuk setiap kali saya perpikir, bersikap dan bertindak, yaitu bahwa hak antara laki-laki dan perempuan adalah sama, saya sangat menghargai persamaan gender dan membenci jika ada yang berani meremehkan perempuan terutama dalam pekerjaan.

Tidak seperti di Masjid Nabawi yang serba teratur, diantaranya adalah terpisahnya ruang antara pria dan wanita, maka di Masjidil Haram semua bergabung, bahkan saf shalatpun sulit untuk ditentukan batasannya. Selama dua hari berturut-turut, sholat saya sempat terganggu dengan kehadiran askar-askar yang memperingatkan para jamaah wanita untuk mencari tempat harus dibelakang pria. Hari yang pertama, saya bersama rombongan lainnya yang terdiri dari para wanita berbagai bangsa, harus pindah mencari tempat lain, padahal sangat sulit mencari barisan yang tidak ada kaum pria dibelakang kami, karena Masjidil Haram yang begitu luasnya. Meskipun demikian akhirnya bisa juga mendapat tempat yang tenang. Tetapi besoknya kejadian itu terulang lagi, padahal waktu Ashar tinggal beberapa menit lagi. Diantara kepanikan dan tatapan tajam mata askar masjid, saya bersama beberapa wanita Turki, Afrika Selatan dan beberapa wanita arab, berjalan dengan kebingungan mencari tempat untuk shalat, saat itu didalam hati saya sempat marah bercampur sedih, “Ya Allah, kenapa jadi begini, padahal kami hanya ingin shalat dan menghadap pada-Mu” setelah sempat berjalan sangat jauh sehingga membuat saya terpisah jauh dari Ayah, namun tidak kunjung mendapat tempat yang kosong, Haram benar benar telah penuh sesak, karena adzan Ashar akan segera dikumandangkan. Tetapi tiba-tiba saya melihat seorang askar, persis berada disamping saya, dengan tanpa pikir panjang saya menepuk lengannya, sambil berkata, “ Haji, Annisa..Annisa..Shalat...Shalat...” kemudian mengangkat kedua tangan saya ke arah Ka’bah dan berkata “Allah...Allah..” sekilas saya mengetahui askar itu memahami bahwa kami termasuk wanita-wanita yang diangkat dari saf karena berada didepan pria. Setelah berulang kali meyakinkannya, entah bagaimana disamping askar itu tiba-tiba saja terlihat lapang, padahal sebelumnya mungkin karena panik saya tidak melihat ada tempat kosong disekitar saya. Dan askar itu menunjuk tempat tersebut dengan maksud memperbolehkan kami untuk shalat disana, akhirnya saya dan para wanita yang lain bisa duduk dan saat itulah adzan terdengar. Saya yang masih masih merasa lelah karena kejadian itu menjadi merenung, inilah aturan Allah yang mutlak, tidak mungkin dibantah, sebuah pelajaran untuk saya pribadi tentang pandangan hidup saya meskipun itu berada diluar aturan tentang shalat, kejadian yang menyadarkan bahwa hak wanita telah diatur sempurna oleh Allah SWT, menyadarkan saya bahwa yang saya pahami tentang kesetaraan gender harus banyak dikoreksi dan diperbaiki. Sekali lagi saat itu air mata saya jatuh.

Menuliskan tentang pengalaman ibadah haji, tenyata sampai sepanjang ini, terpaksa harus dibagi menjadi dua bagian, insya Allah akan dilanjutkan dengan saat Wukuf di Arafah dan Melontar Jumrah di Mina. Mudah-mudahan yang membaca berkenan dan tidak bosan. Khususnya untuk seorang sejawat yang pernah meminta saya untuk menceritakannya.

Read More..

Selasa, 02 Desember 2008

Memasak Telur dengan Handphone

Beberapa hari yang lalu sebuah surat masuk ke email saya, dari seorang rekan, sebenarnya itu adalah sebuah surat yang di forward ke alamat saya, karena setelah saya baca ternyata saya adalah mata rantai ke enam dari perjalanan surat ini.

Isinya menarik sekaligus mengejutkan, meskipun sudah banyak mendengar dan membaca tentang masalah ini, tetapi tetap saja saya merasa terkejut. Dan akibatnya, saya mulai mengingat-ingat dan menghitung kembali berapa banyak saya pernah melakukannya.

Pesan terakhir pada surat itu adalah menyampaikan informasi tersebut kepada teman dan keluarga, untuk itu posting kali ini isinya tentang isi surat tersebut, agar semua orang bisa mengetahuinya, sekaligus juga menyimpannya disini di Beranda Hati.

Penasaran dengan isi suratnya?


Dear all....
Pernahkah Anda mengalami masalah ketika akan membuat telur rebus, air sulit dicari dan kompor pun tiada ?

Ada cara baru yang effisien dengan memaksimalkan manfaat HandPhone Anda. Tahu caranya ? Berikut tipsnya :
Dibutuhkan :

* 1 butir telur dan 2 ponsel
* 65 menit percakapan dari 1 ponsel ke yang lainnya

Set up seperti pada gambar

Kita mulai panggilan antara kedua ponsel selama kurang lebih 65 menit;
15 menit pertama tidak terjadi apa-apa…
Setelah 25 menit telur mulai hangat, setelah 45 menit;
telur sudah panas; dan setelah 65 menit telur matang…


Kesimpulan:
Jika radiasi gelombang mikro yang dipancarkan oleh ponsel mampu memodifikasi protein dalam telur itu. Bayangkan apa yang terjadi dengan protein dalam otak kita ketika kita bicara melalui ponsel.

Bagaimana menurut Anda, apakah saat ini Anda mulai mengingat-ingat, apakah pernah berbicara melalui handphone sepanjang 45 menit atau mungkin lebih? Dan mulai menerka seberapa berat kerusakan yang sudah terjadi? Semoga saja belum terjadi, paling tidak Anda jarang melakukannya, tetapi dengan membaca ini maka bagi yang selalu melakukannya, mudah-mudahan jadi punya niat untuk mengurangi. Lagi pula nelpon sebentar khan artinya murah, tidak banyak biaya.

Tapi kalau melihat telur jadi matang karena telpon. Sebaiknya berhentilah dari sekarang...tutup telponnya!!

Read More..