Subscribe

RSS Feed (xml)



Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selasa, 2009 Juli 07

Dari keterasingan

Bulan Juni kemarin, pastinya menjadi bulan paling tidak produktip bagi Beranda Hati. Ada banyak hal yang menyita perhatian dan pikiran, membuat perenungan-perenungan hati hanya hadir pada batas perenungan saja, tidak pernah berakhir menjadi sebuah tulisan. Fokus pada sebuah pencapaian, target, pertumbuhan, percepatan dan semua hal yang memperlihatkan sebuah pergerakan ke nilai-nilai positip.

Atau mungkin juga perenungan tidak pernah terselesaikan, karena saraf-saraf otak bekerja ekstra cepat, tidak bisa berlama-lama merenung. Waktu berputar, detik ke menit berganti jam kemudian menjadi untaian hari-hari, semua menggelinding tak bisa berhenti.

Seperti kembali dari sebuah keterasingan....mungkin begitulah tepatnya.

Jika orang lain berkata, pada saat seperti itu hati akan kehilangan kepekaannya, menurut saya tidak sepenuhnya benar. Ketika sang waktu melesat, energi potensial tubuh yang kemudian dipacu oleh kecepatan neurotransmitter di otak merubahnya menjadi energi kinetik selanjutnya bersinergi dengan variabel-variabel eksternal, simpul-simpul saraf berpendar menjadikan setiap bagian hingga yang terkecil menjadi sebuah sistem terkoordinir.

Di saat itulah hati justru mencapai tingkat kepekaan pada level tertinggi. Perenungan itu mengendap dalam tempat yang tak pernah terukur ruangnya dan tak mungkin terhitung waktunya. Berproses meski sepertinya diam dan jika dituliskan akan menjadi ribuan halaman.

Hidup kadang menghadapkan kita pada banyak pilihan, kebaikan dan kebenaran atau buruk dan kejahatan. Semua berujung pada kesadaran bahwa segalanya bergerak teratur. Keseimbangan itu ada dan berwujud jelas, tertangkap dalam jarak pandang sempurna bahkan bisa tergapai oleh tangan lahiriah kita. Sulitkah untuk menyadarinya? Hanya diperlukan kerendahan hati untuk mengakuinya dan kembalilah ke titik nol.

Membuat setiap gerak dan hembus napas kita menjadi bernilai memang tidak mudah, tapi jika setiap saat hati kita berada di titik nol maka semua akan terasa ringan.

Semoga!

Untuk Tiga Cinta tercinta, untuk sahabat-sahabat terbaik saya di IBSN dan sahabat-sahabat di Beranda Hati yang telah mewarnai setiap tempat yang belum berwarna.

Rabu, 2009 Mei 27

Membuktikan Cinta

Sudah dua bulan ini, Si Adek mendapat pengasuh yang baru, seorang gadis berumur 19 tahun tamat dari Madrasah Aliyah. Gadis yang baik, lembut dan Si Adek cepat sekali bisa dekat dengannya. Saya seperti mendapatkan seorang anak lagi, selain Ega dan Adek.

Disaat senggang, ada waktu kami saling bertukar cerita, sambil menemani Si Adek bermain. Layaknya seorang gadis seumur dia, yang menarik untuk dibicarakan adalah seputar cowok. Terkadang ceritanya menjadi sangat lucu dan kadang terdengar begitu naif. Semua menjadi begitu indah dan seakan karena rasa cintanya itu, tidak ada hal yang sulit baginya untuk dihadapi.

Lain hal dengan anak saya yang satu lagi, bercerita tentang pacarnya yang cantik, dan karena cintanya dia rela merubah kebiasaan, biasanya pakai baju sesukanya, jeans belel dan robek dilutut yang menjadi seragam wajibnya, kini ditinggalkan dan mulai tampil rapi, semua untuk membuat pacar senang. Membicarakan sang pacar, seakan tidak pernah kehabisan kisah. Kehidupannya seakan terpusat padanya, pacar tidak balas sms atau tidak menerima telponnya bisa membuatnya bete seharian.

Mungkin kita semua sudah mengalami bagaimana rasanya cinta, semua menjadi indah, semua menjadi hidup. Orang yang kita cintai, seakan mampu memberikan semangat yang tidak pernah habis.

Disaat hati dirundung duka maka orang yang kita cintai akan menjadi tempat pertama sebagai tempat berbagi, mencurahkan seluruh kegalauan hati kita. Dan kemudian, walaupun hanya satu kata yang diberikannya maka itu akan menjadi sebuah kalimat bijaksana yang panjang, yang mampu menenang hati dan mengembalikan semua energi, mengembalikan harapan dan menunjukkan jalan keluar bagi masalah kita.

Hanya mengingat dan menyebutkan nama orang yang kita cintai mampu membuat kita tersenyum bahagia dan membuat satu hari yang paling buruk sekalipun berubah menjadi hari yang menyenangkan.

Apa saja akan kita lakukan untuk orang yang kita cintai, karena cinta seorang bapak yang sedang sakit mampu berangkat bekerja agar bisa memberikan nafkah untuk keluarganya.

Karena cinta, seorang ibu akan rela bangun ditengah malam untuk menyusui bayinya, menggendongnya dalam pelukan hingga pagi, walaupun harus menahan kantuk.

Bagaimana dengan cinta kita kepada Sang Khalik? Seberapa besarkah rasa cinta kita? Sekeras apa upaya kita untuk membuktikan rasa cinta kita? Sekuat apa kita merusaha untuk membuat Allah senang?

Ketika panggilan Allah datang, kita selalu mengulur waktu, kita lebih mengutamakan pekerjaan, masih sibuk meneruskan kegiatan yang kita sukai, dilapangan futsal,di mall, memandang monitor komputer, tidak rela menghentikan game yang sedang kita mainkan. Padahal hanya meluangkan waktu tidak lebih dari 10 menit untuk- Nya.

Ketika kita dilanda masalah dan kesedihan bermain dihati, kita lebih senang mencari kedamaian pada yang lain, yang hanya mampu memberikan damai yang semu, menempatkan-Nya pada nomor kesekian, curhat pada manusia, kita lebih percaya kepada orang lain untuk mengadu.

Kita lebih percaya dan tanpa malu dan ragu, memohon dan menghiba kepada boss dan pimpinan kita, mengira merekalah yang mampu merubah jalan hidup dan menentukan seluruh rezeki yang akan kita terima. Kita sering kali melupakan bahwa gerak langkah, kesehatan, kebahagiaan, kesedihan dan rezeki, semua diberikan dan diatur oleh-Nya.

Kita kadang ragu untuk menangis kepada-Nya, ragu untuk mencurahkan kegalauan hati kita kepada-Nya.

Jika kita memang mencintai-Nya, mengapa tidak kita sebut nama-Nya? Mengapa tidak kita renung keagungan-Nya, yang akan membuat kita merasa damai dan tentram, walau seberat apapun masalah yang dihadapi.

Betapa sulitnya kita untuk membuktikan cinta kepada-Nya, padahal begitu banyak kasih sayang dan kebahagiaan yang telah kita terima.

Semoga bisa menjadi renungan bersama dan saat ini mulai membuktikan cinta kita kepada - Nya.



Selasa, 2009 Mei 12

Sampaikan Walau Satu Ayat

Pukul 14.00 wita, jam istirahat kantor baru saja usai. Sebuah pesan masuk ke ponsel saya. Ternyata dari Mas Noto Si Manusia Biasa yang menanyakan ada dimana saya saat itu.

Tiga minggu tidak masuk kerja memang membuat saya rindu dengan tugas, termasuk juga rindu teman-teman kantor. Pesan pendeknya saya jawab, saya ada diruang kerja.

Tidak sampai sepuluh menit Si Manusia Biasa sudah mengetuk pintu. Masuk sebentar dan berdiri didepan saya, kemudian berkata "....sebentar Kak, mau kedapur dulu...bikin kopi"

Tidak biasanya melayani diri sendiri, biasanya sebelum datang sudah pesan kopi duluan, lengkap dengan mi instan hangat.

Tidak lama dia masuk lagi dan duduk di kursi didepan meja. Membakar rokok dan memakai piring alas gelas saya sebagai asbaknya. Duuh..sahabat saya yang satu ini memang punya hak istimewa, karena tidak bakal kena marah saya, ujung-ujungnya jendela disebelah meja harus saya buka agar asap rokoknya keluar dari ruangan.

Sejenak kami bicara tentang pekerjaan, kemudian beralih ke blog. "Saya lagi malas posting Mas" kata saya, dijawabnya "... sama". Tapi beberapa hari yang lalu saya sempat meninggalkan komentar di websitenya, sebuah posting menarik menurut saya, seputar doa dan rezeki dengan judul "Anda Pernah Meminta?"

Selanjutnya pembicaraan kami jadi membahas materi posting, diskusi offline ternyata juga menarik. Sambil menemaninya menghabiskan secangkir kopi dan sebatang rokoknya, saya pikir sebuah halaqah tidak mesti dibuat dengan pembicaraan religius secara mendalam. Ringan tetapi menyentuh dasar batin. Bukankah ini juga menjadi sebuah zikir? Kemudian menyimpulkannya menjadi sebuah kesepakatan bahwa hasil dari sebuah usaha dan doa, tidak terlepas dari ijin-Nya.

"Saya kurang sependapat dengan kata-kata Kak Lina dulu, tentang posting berthema religi, kenapa mesti takut? katanya.

Saya memang pernah mengatakan hal tersebut, karena merasa tidak mampu, apalagi ilmu saya tentang agama sangat terbatas, biarkan orang-orang yang mampu dan mengerti yang melakukanya. Tetapi bukan berarti, itu berlaku untuk orang lain, bukankah sebuah tulisan adalah hasil dari sebuah pemikiran, walau sesederhana apapun. Apalagi jika buah pikiran tersebut sangat bermanfaat bagi orang lain. Sebuah ilmu pengetahuan dan pelajaran tentang hikmah kehidupan bisa jadi didapatkan dari manapun.

" Sampaikan walau satu ayat" lanjutnya. Saya jawab dengan senyum setuju. Dan membahas sebuah konsep spiritual tidak semata-mata dari pembahasan rangkaian ayat. Tetapi bisa dalam bentuk apapun. Didalam sebuah blog maka tata bahasa adalah sebuah wahana dan kata-kata adalah media, lebih dari semua itu hikmah dan intisarinyalah yang menjadi tujuan akhirnya.

Memberi manfaat bagi orang lain, itulah yang terpenting, meskipun sekecil apapun. Jika belajar dari kepergian seorang sahabat kita Sassie Kirana, alangkah indahnya jika suatu ketika ajal menjelang, maka apa yang kita tulis pada blog, akan menjadi catatan yang akan selalu bermanfaat bagi siapapun, meskipun saat itu kita tidak pernah bisa menulis lagi. Semoga.

Rabu, 2009 April 22

Pamit

Kepada Sahabat Beranda Hati

Dalam beberapa waktu kedepan, saya tidak bisa menjenguk Beranda Hati, sehingga tidak bisa membalas sapa para Sahabat. Insya Allah selama dua minggu nanti, saya akan menunaikan ibadah Umroh ke tanah suci Mekkah.

Dari lubuk hati terdalam dan dengan segala kerendahan hati, saya memohon keikhlasan hati para Sahabat, kiranya mau memberikan maaf apabila selama kita menjalin persahabatan ada yang kurang berkenan dihati para Sahabat. Mungkin ada didalam isi posting atau ketika saling menyapa, melalui komentar dan chatbox.

Kepada Sahabat-Sahabat Beranda Hati yang telah memberikan doa dan supportnya, saya ucapkan terima kasih, mohon doa restu semoga perjalanan ibadah ini bisa saya laksanakan dengan baik. Amin.

Dalam kesempatan ini saya juga ingin menyampaikan rasa duka yang sangat dalam, atas kepergian Sahabat kita Sassie Kirana Binti Abdul Muthalib, pada hari Minggu tanggal 19 April 2009.

Seorang Sahabat yang hingga akhir hayatnya, dengan sabar dan ikhlas menerima ketentuan Allah SWT serta dengan tabah menghadapi sakit yang dideritanya.

Allahummaghfirlaha, warhamha, wa'afiha, wa'fuanha.
Semoga Allah SWT mengampuni khilaf dan kesalahannya, menerima Iman, Islam dan Amal Ibadahnya dan memberikan tempat yang paling mulia disisi-NYA. Amiin Ya Robbal Alamiin.


Minggu, 2009 April 19

Emansipasi Talisha

Detik.com memberikan 100 t'shirt kepada 100 blogger wanita Indonesia yang ikut dalam acara ngeblog bareng, acara ini dimaksudkan untuk memperingati Hari Kartini, pahlawan nasional pejuang emansipasi wanita.

Bicara tentang emansipasi, saya tidak ingin membahas tentang perjuangan untuk mendapatkan persamaan hak bagi wanita, karena saat ini sudah bukan hal yang istimewa lagi, sudah banyak kaum perempuan yang mampu menempatkan dirinya sejajar dengan kaum pria. Sudah ada Kapolda wanita, Bupati wanita, Pilot wanita, Menteri wanita bahkan Presiden wanita.

Kebanggaan bagi Ibu Kartini yang dulu begitu perduli dengan nasib kaumnya. kaum wanita sekarang mempunyai peluang yang luas untuk menuntut ilmu dan bisa mengabdikan dirinya dalam semua bidang pekerjaan.

Tetapi menurut saya, emansipasi tidak hanya tentang kesetaraan atau keberhasilan, yang diukur dari materi, jenjang pendidikan, jabatan, atau apa saja yang memperlihatkan kiprah wanita wanita didalam masyarakat.

Emansipasi adalah luasnya pikiran dan semangat besar yang ada didalam hati setiap wanita. Tidak perduli saat ini dia berada ditengah sawah untuk membajak tanah lumpur, menanam setiap setiap benih padi atau berada disebuah pelabuhan menjadi kuli panggul, berdagang di pasar atau berada di pesisir pantai, membelah perut ikan dan menjemurnya hingga kering.

Emansipasi adalah niat tulus yang ada disetiap hati wanita, yang tumbuh karena cinta, yang membuatnya rela terjaga saat matahari belum terlihat diufuk timur, memastikan semua tanggungjawabnya didalam rumah tangga telah benar dan teratur, kemudian karena cinta, ada yang melangkah keluar rumah untuk bekerja, mencari nafkah untuk keluarga dan kemudian saat dia pulang kerumah di sore harinya, kembali tugas rumah tangga menjadi perhatiannya hingga seluruh anggota keluarga terlelap, baru dia bisa merebahkan badan menikmati istirahatnya.

Kesetaraan yang diperjuangkan dalam emansipasi wanita, yang didapatkan wanita ketika berada diluar rumah, sejatinya telah didapatkan wanita, ketika dia berada didalam rumah, dia adalah seorang manajer ulung pengatur rumah tangga, dia mampu menjadi penghibur, memberi keindahan dalam rumah, menjadi air sejuk pelepas dahaga anggota keluarga.

Diceritakan ketika seorang bayi masih berada di alam arwah sebelum dilahirkan oleh Ibunya, Allah subhanahuwata'ala menerangkan kepada Sang Bayi, nama-nama malaikat yang akan menjaganya, dan ketika Sang Bayi bertanya " Ya Allah, jika kelak aku dilahirkan kedunia, siapakah malaikat yang akan menjagaku?" Saat itu Allah Subhanahuwata'ala menjawab bahwa malaikat yang akan menjaga Sang Bayi bernama "IBU". Begitu mulianya tugas seorang wanita sebagai ibu, sehingga Allah subhanahuwata'ala menyebutnya sebagai seorang malaikat.

Tidak perlu jauh memperjuangkan emansipasi, bagi seorang wanita justru kemuliaan itu dimulai dari dalam rumahnya.

Dalam rangka mengenang kembali perjuangan seorang Ibu Kartini, maka saya ingin mengenalkan seorang blogger wanita termuda yang saya kenal bernama TALISHA, masih kelas 3 Sekolah Dasar, tinggal di Bandung, putri terkasih seorang sahabat saya Bapak Herry Yustiana, isi blognya adalah tentang cerpen-cerpen yang ditulisnya. Mari kita dukung sahabat kecil ini, agar terus bersemangat untuk menulis. Yuk berkunjung ke blognya Cerita Talisha

Talisha mungkin belum mengerti makna sebuah emansipasi, tetapi apa yang dilakukan oleh Talisha saat ini adalah sebuah realisasi semangat dan cita-cita seorang Ibu Kartini.